Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Monday, November 14, 2011

Sesisir Daun Senja

Kulihat ke dalam,
tiada hancur yang tak berasal.

Bintang malam,
berkeping tak berbunga dipangkal.

Kuasai dendam,
perangai tidak berampun akal.

Teratai bersulam,
tidak terlupa tetap disangkal.

Kulihat ke luar,
cahaya mentari berikal.

Lupa 'ku akan sesisir daun senja,
yang bunganya pernah kusimpan.

Wednesday, October 27, 2010

Bukan Besok

Bukan besok bukan berarti hari ini
Bukan besok bukan berarti kemarin
Bukan besok belum tentu nanti
Bukan besok belum tentu tadi

Aku menulis bukan untukmu,
melainkan untuk seorang teman.
Ia menghormatiku,
lebih dari aku menghormatimu.

Dunia memang tidak selalu indah,
tapi juga tidak selalu buruk, bukan?
Walaupun kita disini, sekarang berkawan.
Bukanlah tidak mungkin, besok menjadi lawan.

Dan meskipun ini bukan surat,
aku selalu membuat puisi laksana sebuah surat.
Tetapi maknanya berbeda untuk setiap mata,
dan karena itu, kutahu maknanya untukmu.

Maka, jangan mengkhawatirkan cinta,
karena cinta selalu bersamamu.
Jangan pernah takut,
kalau itu memang untuk semua orang.

Kuharap surat ini sampai padamu,
karena memang hanya kamu yang menunggu.
Tak perlu kusebut kapan,
bukan besok, mungkin hari ini.

Maafkan aku apabila surat ini terlalu pendek.

Sadar

Langit membentangkan indahmu
Selalu kupandang dirimu
Tak pernah kulupa tindakanmu
Ku tak rela melepasmu

Lalu kau buang diriku
Kau campakkan cintaku
Aku merenung 'tuk lupakanmu
Apakah itu maumu?

Namun kusadar semua salahku
Memang kau lakukan itu untukku
Terima kasih, telah menyadarkanku.
Cintaku yang hilang dan berlalu.

Putus Asa

Kulihat mereka berusaha
mengejar mimpi, menggapai asa
bukan surga bukan neraka
tapi hidup di dunia

Biarlah aku lalai,
Yang kucari bukan nilai
Walau jadi ilmuwan tak sampai
Untung kubelum jadi keledai

Dan maafkanlah egoku
Mungkin aku takkan laku
Dalam seni akupun kaku
Namun ingatlah usahaku

Wednesday, December 31, 2008

Dari 2008, Kenalanku

Sampahkanku,
tanpa lalu dan esok,
semenjak tadi saja tidak,
lupa.

Lama tak sampai, cepat tak jadi,
apa-apaan kupikirkan,
memuai saja,
tanpa rindu.

Hampa haluan,
tak ada ragi,
rotipun tidak,
esokku tidak jadi.

Hari apa ini,
tanya muridku saja,
sampah, ku saja tak tahu,
isi apa ini?

Selama tanda ini,
tak ada rasa,
beban tak ada,
perlahan, perlahan.

Kuhampakan pikiran,
kutarik pena,
tanpa haluan,
sekali ledakan saja.

Bunyi pintu,
ledakan lagi,
tak peduli,
esokku tak ada.

Aku ini apa?
matikupun sudah dekat,
hening lagi,
dua jam waktuku.

Nanti orang-orang mengingatku,
tapi aku tak tahu mereka,
waktuku terlalu sedikit,
tetapi cukup untuk mereka.

Baiklah saja, dua jam lagi,
sampai jumpa semua,
aku menanti,
ledakan lagi.

Siapa aku, kalian tahu,
tapi aku tak peduli kalian,
maaf, sampai jumpa saja,
aku tak tahu kapan ketemu lagi.

2 jam lagi, kalian akan bertemu seseorang,
sampaikanlah keluh kalian tentangku,
aku tak tahu kalian,
maafkan saja.

31 Desember 2008

Saturday, November 29, 2008

Mimpi

Tidur atau bangun,
tiada mengerti.
Aku bingungpun,
tiada peduli.

Saat kubangun, aku bingung.
Mimpikah ini?
Saat kumimpi, aku bingung.
Bangunkah ini?

Baiklah kujalan saja.
Keduanya berbeda? Tidak,
masalahnya hanya kata.
Kadangpun tak tampak.

Dimana hidupku jadi seperti mimpi,
aku waspada untuk bangun.
Tidakpun tak masalah, karena kita hidup
dalam mimpi dan bangun.

Resah

Aku rindu
bulan-bulan itu, tiada halangan.
Mimpi dan khayal
menghantui. Tanpa henti,
kumasih mengejarmu.

Atau itupun mimpi. Sendu
hati ini. Perih rasanya
mengingatmu. Akan menyembuhkan luka ini?
Mungkin, dan mungkin
juga menambah luka baru.

Hilang dalam sepi,
tapi terus kuingat.
Tahun-tahun lalu,
melihat senyummu.
Menghapus resahku.

Monday, November 17, 2008

Jamboree

Jejaki lagi,
selangkah,
tanpa ragu.

Tanpa Ragu

Tatap, depanmu itu. Kawan
atau lawan, ragukanlah.
Mungkin, tapi tidak
pasti. Dialah kamu.

Tatap, jangan jauh-jauh.
Melainkan depanmu saja.
Yakinlah, tanpa ragu.
Kamu yang menang.

Dirimu hanyalah dirimu, depanmu.
Mengalahkan depanmu, hanyalah berarti mengalahkan dirimu.
Dirimu jadi kalah, bukan menang.
Memenangkan dirimu, bukanlah mengalahkan depanmu.

Menanglah, dan jangan mengalahkan.
Tanpa ragu, menanglah.
Lagi, esok bukanlah depanmu.
Depanmu hanyalah dirimu.

Selangkah

Hai, tak pernahkah kumendengar
engkau melangkah, wahai pemuda
gagah, menelusuri alam
bebas, mencari ketenangan
dalam malam sepi.

Langkahkanlah, dunia
menanti langkahmu,
menantikan detak, yang terbentuk
di hari yang kosong, bagai malam
tadi, dunia hanya butuh selangkah.

Nanti, selangkahlah yang mengisi
dunia, hilanglah semua
sepi, dan dunia
kembali, serta dipenuhi
langkah. Takkan berakhir.

Jikalau langkah itu berakhir,
aku akan kembali, dan memulai
langkah-langkah yang telah hilang,
sampai kembali kutemukan, dunia yang penuh
dengan langkah. Aku terus mencari.

Maka dari itu, berikanlah
selangkah untuk dunia, saat ini
penuh dengan kekosongan, sampai nanti
kita melangkah, bersama
kita lakukan cukup selangkah.

Jejaki Lagi

Kujejaki alam, tak berdetak menjadi
hening, duka
tak berlanjut, hampa
berkuasa, sepi
memenuhi semesta, kedamaian
tak terasa. Kujejaki lagi alam itu.

Manakala kutinggalkan rumahku,
angin sepi membawaku pergi.
Diam, tetapi jelas
kudengar, hampa
intinya, jika angin sepi membawaku pulang.
Manakala kusampai di rumahku?

Tanpa mereka yang dicintai,
tapi bersama yang mencintai.
Itu alam, indah
tak bercacat, bersih
seperti kain, jikalau cinta menjadi
tak jelas, aku diam.

Intinya, pergilah
tanpa ragu, pulanglah
tanpa sesat, yakinlah
tanpa takut, cintailah
tanpa sesal, hiduplah
tanpa henti, jejakilah.

Tanpa duka, hidup jadi bosan.
Tanpa suka, hidup jadi beban.
Tanpa keduanya, hidup jadi korban.
Tanpa kehampaan, hidup jadi jamban.
Tanpa tanpa, tanpa hidup jadi hidup.
Tanpa hidup, hidup jadi.

Kujejaki alam, berdetak menjadi
ceria, suka
berlanjut, penuh
menghamba, suara
mengosongi semesta, kericuhan
terasa. Kujejaki lagi alam ini.